Stalker

Ficlet

Title : Stalker

Genre : –

Cast : Cho Kyuhyun, Jung Hyeju (fic)

Terkadang lucu melihat tingkahnya yang pemalu, pipinya akan merubah menjadi merah tomat jika sedang malu lalu ia akan menunduk terus sepanjang waktu.

Terkadang sangat menyebalkan melihat sifatnya yang seperti setan, ia suka sekali menjahili teman-temannya bahkan hyung-hyungnya pun sudah tidak tahan dengan sifat setannya.

Terkadang rasanya ingin sekali membanting psp hitamnya jika ia sudah mulai menyentuh barang laknat itu, ia akan melupakan segalanya jika sudah menyentuh barang itu. Bahkan ia tidak akan tidur kalau belum menyelesaikan level starscrafnya, ia juga pasti akan lupa makan.

Terkadang aku ikut tersenyum jika ia menyunggingkan senyuman khasnya itu, senyumannya adalah favoriteku.

Dia adalah Cho Kyuhyun. Setanku.

***

“Kau ini bodoh atau apa? Cepat datangi dia lalu utarakan perasaanmu sebelum hari kelulusan tiba” ujar Isseul menasehatiku.

“Tidak, sudah kukatakan berulang kali padamu sseul ah. Aku tidak akan membocorkan perasaanku ini padanya” jawabku sekenanya.

“Lalu kau mau melihatnya pergi segitu saja? Lantas apa gunanya setiap hari kau selalu membawa kameramu lalu mengambil gambarnya diam-diam, kau ikut les matematika agar dapat satu tim olimpiade dengan dia, kau datang pagi-pagi pada hari kamis hanya karena ia dapat jatah piket pada hari itu dan hanya ingin melihatnya membersihkan ruangan kelas, kau mengikutinya sepulang sekolah karena ingin tahu letak rumahnya. Kalau kau hanya diam saja segala sesuatunya akan sia-sia Hyeju ah. Arra?” Aku benci jika Isseul sudah menceramahiku panjang lebar seperti ini.

“Arra Sseul ah tapi aku tidak akan membocorkan perasaanku ini padanya. Aku punya caraku sendiri”

“Terserah padamu saja, aku hanya tidak ingin kau menyesali semua perbuatanmu 3 tahun belakangan ini” ujar Isseul sedikit ketus padaku. Aku paham alasan dia menyuruhku untuk menyatakan perasaanku pada Kyuhyun namun aku juga amat paham akan perbedaanku dengan Kyuhyun. Diantara kami terdapat dinding pemisah yang begitu tebal, dia adalah kalangan populer maka aku adalah kalangan pecundang, dia begitu dikagumi maka aku adalah orang yang dicaci, sebegitu besarkah perbedaan kami?. Sejak pertama bertemu aku sudah mohon pada hatiku ini agar tidak jatuh cinta padanya namun hati ini seakan tidak menuruti permintaan sang pemilik, setiap melihat Kyuhyun hati ini selalu berdetak lebih cepat dari biasanya.

***

Kini ia sedang duduk di cafetaria bersama teman-teman populernya, seperti biasanya dia akan duduk dipinggir dekat jendela dan memesan  Caramel Mocha Frappuccino. Aku sudah hafal betul semua kebiasaannya diluar kepala. Ia tampak sedang senang, senyuman favoriteku kini sedang ia sunggingkan dibibirnya. Tanpa disadari aku bahkan bisa membaca perasaannya dengan hanya melihat wajahnya. Aku tahu saat ia sedang sendu, lihat saja matanya, matanya akan terlihat sayu dan kosong. Aku tahu saat ia sedang senang, lihat saja matanya, matanya akan terlihat berbinar dan berarti. Kalau matanya sedang fokus memandang objek tertentu itu tandanya ia sedang bingung, ada sesuatu yang ia pikirkan dan kalau ada guratan hitam dibawah matanya itu tanda bahwa semalaman ia tidak tidur karena bermain game.

“Sudah puas belum memandangnya?” ujar Isseul menyadarkanku dari lamunan.

“Eh kau disini? Aku kira sedang bersama si ikan cupang?” sial sekali Isseul malah menyusulku disini jadinya aku tidak bisa dengan tenang memandang Kyuhyun.

“Berani sekali kau memanding Donghae dengan ikan cupang hah? Kalau dia dengar habislah kau! Bagaimana? Kau sudah menemukan caramu untuk mengungkapkan perasaanmu dengan si setan Kyuhyun itu?” aah lagi-lagi Isseul membahas tentang ‘mengungkapkan perasaan’. Aku benar-benar membenci topik itu, aku merasa sudah cukup nyaman dengan posisiku sekarang. Aku hanya ingin menikmati perasaan sepihak ini sendiri, tidak bisakah Isseul mengerti?.

“Isseul ah bisa tidak kau berhenti membahas masalah itu? Dan jangan ikut campur dengan love lifeku, aku tahu kamu amat sangat peduli tapi tolong untuk kali ini saja biarkan aku yang mengurus kisahku” ucapku lalu bergegas meninggalkannya yang sedang mencerna kata-kataku barusan.

 ***

Adakalanya aku jenuh menjadi seorang pengamatmu tuan Cho. Aku juga ingin diakui, aku ingin lebih. Impianku adalah saat teman-temanmu bertanya siapakah diriku, lalu kau dengan lantang akan menjawab “dia kekasihku”. Dan kini aku bertekad untuk menyimpan perasaan sepihak ini sendiri, aku tidak akan membocorkan perasaanku ini padamu tuan Cho. Karena apa? Entahlah, aku sudah begitu nyaman dengan hanya mengamatimu dari jauh atau mungkin aku terlalu pengecut dan takut akan kenyataan bahwa disaat aku menyatakan isi hatiku kamu akan pergi menjauh dan menganggapku orang aneh. Ya, benar. Aku memang seorang pengecut.

— THE END —

  1. lanjutkan chingu,aku suka ide ceritanya🙂

    • kamsaKYU, ini cuma ficlet chingu jd segitu aja soalnya udah enggak ada ide hehe

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: