Blue Tomorrow

When it’s tomorrow, we agree not to meet again
Sitting in the shop at the end of the road, I ordered a cup of missing you

When it’s tomorrow, we can only let love pass by
Before daybreak, two persons’ smiling faces become a yellowed photograph

****

“Krys…” panggil Sulli

“Hmm?” jawabku enggan.

“Kau tidak pulang? Ini sudah sore Krys..”

“Nanti saja, aku masih ingin disini. Kau pulanglah duluan”

“Ya kalau begitu. Aku duluan Krys, jagalah dirimu. Bye”

Aku masih ingin menikmati sepiku diperpustakaan sekolah ini, ini adalah hari terakhirku disini. Umma dan Appa memutuskan untuk pindah ke New York karena urusan kerja dan mereka memaksaku untuk ikut dengan mereka, damn! Bukannya ingin menjadi anak durhaka tapi aku masih ingin meneruskan sekolah disini atau mungkin ini penebusan dosa yang telah aku lakukan selama ini? Entahlah. Hanya dia alasanku untuk tetap tinggal disini tapi semakin aku tinggal semakin aku merasa bersalah pula.

“Krys.. kau masih disini?” panggil suara berat itu.

“Ya..” ucapku sendu.

“Jangan pergi Krys..” mohonnya dengan suara setengah tercekak. Mendengar kata-katanya barusan semakin membuatku lemas. Dia adalah sosok pria yang tidak pernah mau terlihat lemah didepanku namun sekarang justru terlihat sekarat.

“Kau egois Kai.. tidak seharusnya kau menghalangiku pergi” ucapku sedikit emosi. Aku mencoba berpikir jernih saat ini.

“Kau yang egois krys. Bukan hanya kau yang merasa bersalah selama ini tapi aku juga. Aku paham perasaanmu, amat sangat paham krys” ujar Kai sama emosinya denganku.

“Ya kita berdua sama-sama egois oleh karena itu kita harus membayar keegoisan kita dengan cara ini. Sekali ini saja Kai kita berdua jangan bersikap egois. Jebal”

“Ya kalau itu maumu Krys. Tapi ada yang inginku tunjukkan padamu sebelum kau pergi. Aku janji ini yang terakhir kalinya Krys..”

“What’s that Kai?”

“Kau tunggulah disini, okay? Jangan kemana-mana!” ujarnya lalu berlari kearah pintu dan menghilang. Entah apa yang ingin dia tunjukkan, apapun itu pasti aku menyukainya karena pada dasarnya aku menyukai segala hal tentangnya. Semakin aku menunggunya disini semakin aku ingin membatalkan kepergianku ke New York, jangan bodoh Krys!! Keberadaanmu hanya akan menyakiti seseorang!

“Krys.. kau masih disana?” ucapnya sambil membawa sebuah gitar coklat kesayangannya dan dengan menyunggingkan senyuman khasnya. Senyuman favoriteku.

“Ya.. apa yang ingin kau tunjukkan? Ingin bernyanyi sambil memainkan gitar?” tebakku.

“Yaak jangan ditebak dulu! Aah kau ini tidak asik Krys” ucapnya sambil menjitak kepalaku.

“Yaaak sakit Kai!! Kau ingin aku pergi ke NYC dengan kepala benjol ya?!” ujarku tidak terima atas perlakuaannya.

“Baiklah maafkan aku. Sekarang kau diam saja disini dan dengarkan, arraseo?”

“Hmmm..”

Ia mulai memetik gitarnya dengan jari-jari panjangnya. Jari-jari kesukaanku.

Matanya mulai melihat kearahku dengan lembut dan ada tatapan sendu disana. Mata kesukaanku.

Sekarang bibirnya sedang menyunggingkan senyum jailnya. Senyuman kesukaanku.

Dan ia mulai menyanyikan lagu dengan suaranya yang berat. Suara kesukaanku.

 

I liked it better cold, the sun is about to set in the alleyway

The coffee aroma brings me back to then

When I looked at the clothes hanging on the shop window

 

Yes it was you, who brought me out

You, who put your hand in my pocket and held my hand

In that year, late autumn

Now where should I walk? I miss the sound of your footsteps

 

I drank in the wind, because my heart longed for it too

My heart that’s gotten a bit better presses me on

For me to go back before the night comes

 

 

Yes it was you, the shade of brown, who taught me autumn

The night with the endless longing

I need to prepare for the upcoming winter

For the winter with the long, long nights

For my winter, that has so much of you

 

“That’s beautiful Kai. Terimakasih” ucapku tercekak karena menahan tangis. Ia berhenti bernyanyi dan meletakkan gitarnya. Ditatapnya mataku dengan tatapan pilu.

“Kembali kasih Krys” ucapnya mencoba untuk tenang.

“Yea, maaf aku tidak bisa memberimu apa-apa Kai. Aku rasa ini sudah saatnya pergi Kai” aku mencoba untuk tidak memelukkan sekarang. Karena saat aku memelukkan aku yakin aku tidak akan pernah melepaskan pelukkannya.

“Krys….”

“Ya?”

“I will secretly miss you. I was far away when i found you that day and now you are going away”

“And i’ll miss you too. So much. But it doesn’t change anything right?”

“Ya, kau benar”

Aku dan Kai saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kami berdua saling menikmati keheningan ini dengan segala hal yang berkecamuk didalam pikiran kami. Aku mencoba untuk berhenti menangis dan menikmati segala detik-detik bersama dengannya, rasanya damai. Inilah harga yang harus aku bayar karena perbuatanku selama ini.

“Krys! Kau masih ada disana?” ucap seseorang tiba-tiba memecahkan keheningan.

“Ohh Sulli? Kenapa?” ujarku kaget. Tubuhku menegang dan kurasa Kai juga sama kagetnya denganku.

“Ohh handphoneku tertinggal krys, ooh kai kenapa kau ada disini?” ucap Sulli bingung.

“Hmm aku hanya ingin mengucapkan perpisahan dengan Krystal, ini juga sebentar lagi mau pergi”

“Ah baguslah kalau kau ada disini Kai, antarkan aku pulang sayang” ucap Sulli sambari bergelayut manja dipundak Kai.

“Iya sebentar lagi ya sayang, kau pergilah dulu ke parkiran nanti aku menyusul”

“Kenapa tidak bersama-sama saja?”

“Ada yang tertinggal dikelas dan aku harus mengambilnya”

“Baiklah jagiya, dan Krys take care ya. Jangan lupa beri kabar kalau sudah di NYC” ucap Sulli lalu menghilang dibalik pintu.

Aku tidak punya tenaga lagi untuk berbicara. Inilah alasanku memutuskan untuk pergi bersama Appa dan Umma ke NYC karena satu-satunya alasanku untuk tetap tinggal disini sudah sebenarnya sudah hilang. Aku tidak ingin menyakiti Sulli terlebih aku tau bahwa Sulli mencintai Kai sama besarnya denganku. Aku bahkan yakin jika Sulli mengetahui hubunganku dengan Kai, ia akan sangat frustasi dan tidak akan memaafkan kami berdua. Dan aku tidak ingin hidup dengan rasa bersalah seperti ini terus menerus.

“Sudah saatnya Kai, kau pergilah” ucapku sendu.

“kau masih ingin disini?”

“Hmm sebentar saja Kai”

“Baiklah. Asalkan kau tau I love you, it will not change, I’ll be loving you till eternity. Goodbye Jung Soojung”  ujarnya lirih.

“Goodbye Kim Jongin” balasku sama lirihnya.

Kai perlahan membalikkan punggungnya dan berjalan menuju pintu lalu menghilang tanpa suara.

Seiring dengan kepergiannya tangisku pun pecah. Aku terisak tanpa suara sampai tenggorokanku sakit.

THE END

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: